Tampilkan postingan dengan label Puisi Kecambah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kecambah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Februari 2011

Dunia Kecambah

Biarkan aku memberitahu dunia, 
tak hanya menjalar,
bahwa Kecambah juga bisa terbang.
bahwa Kecambah juga bisa berenang.
bahwa Kecambah juga bisa melayang.

Biarkan aku memberitahu dunia,
dunia kecambah tak cuma tanah dingin yang lembab,
bahwa angin juga dunianya,
bahwa air juga habitatnya,
bahwa bumi juga pijakannya.

Biarkan aku memberitahu dunia,
duniaku, sisi lainku, jejak kakiku.
agar kau kau tahu,
i wanna make a life colourful for different looking.

Aku Kecambah

Tingkah lakuku,
tak semuanya layak.
 
Pikiranku,
tak semuanya benar.
 
Khayalanku,
tak semuanya tepat.
 
Menjadi diriku,
bertingkah dengan style-ku,
berpikir dengan pahamku,
berimajinasi dengan suasana hatiku.
Tak semua tepat.
 
Ikutilah cahaya-Nya, karena kebenaran mutlak ada di sana.
cukup gayaku sebagai referensi untuk langkahmu, 
sebagai bahan bacaan untuk senggangmu, atau sebagai pembanding untuk polamu.
 
Jangan kau jadikan aku Tuhanmu,
Jangan kau jadikan aku Malaikatmu,
Jangan kau jadikan aku Einstenmu,
 
Cukup, jadikan aku, Kecambah

Rabu, 08 Desember 2010

Aku berguling-guling

Aku suka berguling-guling di lumpur jalanan
Kotor, tambah riang
Pedih, tambah menantang
Lepas, tambah senang

Aku suka berguling-guling di lumpur jalanan
Tiada yang peduli
Tiada yang meratapi
Aku asyik sendiri

Aku berguling-guling di lumpur jalanan
Aku melihatmu

Aku berguling-guling di lumpur jalanan
Kau jumpaiku
Kau sapaku
Ku iba padaku
Aku cuek padamu

Aku berguling-guling di lumpur jalanan
Kau membangunkakanku
Kau menarikku
Kau perlihatkan indah duniamu
Aku termangu

Aku mulai melupakan lumpur jalanan
Kau mengajakku berguling-guling
Di hamparan hijau rumput
Keridhaan-Nya

Kini kusuka berguling-guling di rumput
Suci, tiada noda
Sehat, tiada luka
Kendali, tiada lepas

Kini ku berjalan di tepi lumpur jalan
Kutemukan kalian di sana

Kalian suka berguling-guling di lumpur jalanan
Ku jumpai kalian
Ku sapa kalian
Ku iba pada kalian
kalian cuek padaku

kalian berguling-guling di lumpur jalanan
Ku coba membangunkakan kalian
Kalian menamparku
Ku mengulurkan tangan pada kalian
Kalian menampikku
Ku perlihatkan indah dunia kalian
Kalian menjauhiku
Aku sedih
Putus asa

Perlukah ku kembali ke lumpur jalanan juga
Tolong!!!

Kecambah hidup
Banjarbaru, 03 Desember 2010
8.15 pm

Kain Itu Eka Sembilan

Eka Sembilan itu,
Selembar alas zaman selimuti rapuh tubuhmu
Sepotong kain juang lengkapi kosong hidupmu
Secarik perca hidup tutupi regang asamu
Biarkan dia bicara padamu

Kain itu, Eka Sembilan
Tenunan berhelai masa perjalanan
Bermula lelahnya satu helai awalan
Terus meniti menenun zaman bersama
senyum dan tangisan
Berlanjut hingga pada helaian akhir kelak di depan

Kain itu, Eka Sembilan
Pintalan bercorak warna keberagaman
Benang pelangi kentara mengilhami hiasan
Pertanda putih kini tak sendirian
Berkawan indah tanpa pintalan pita perbedaan

Kain itu, Eka Sembilan
Rajutan berjalin benang kebersamaan
Benang kuat tak putus kini kau harapkan
Rangkaian erat tak henti dipanjatkan
Bersama menjalin, memilin sebuah ikatan persaudaraan

Kain itu, Eka Sembilan
Sulaman berhiaskan hikmah kehidupan
Menemukan makna hidup saat tapaki perjalanan
Suatu kealfaan takkan selalu hitam dalam catatan
Mengapa tidak mengubahnya menjadi sebuah pelajaran

Eka Sembilan itu,
Bukanlah akhir tenunan kau rajut
Perjuangan harus berlanjut
Teriring doa harap disebut
Biarkan dia bicara padamu