Tampilkan postingan dengan label Renungan Kecambah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kecambah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2010

Takkan Sedih Dengan Ini

Saat kau terjatuh
Saat kau tersungkur
Saat kau tertimpa bencana

Jangan lari
Jangan memaki
Apalagi mati.

Angkat tanganmu,
Angkat suara hatimu,
Angkat kesungguhan jiwamu
Berdoalah,
Bertawakkallah,
Allah SWT senantiasa mendengarkan suaramu, suara hamba-Nya.


Ya Allah, 
Engkaulah tumpuanku dalam setiap kesusahan,
Engkaulah harapanku dalam setiap kesulitan,
Engkaulah penolongku dalam setiap bencana dan derita yang kualami,

berapa banyak musibah yang terkadang melemahkan hati
Ya Allah,
Kuluapkan segala kepada-Mu.
Perlihatkanlah jalan keluar dan sibaklah tabir penghalang.

Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu dengan kebesaran nama-Mu.
dengan nama-Mu yang Maha Agung,
penuhilah keinginanku.

(disadur dari doa diriwayatkan dari Thabrani)

Takkan 'ku biarkan bencana memisahkanku dengan Sang Pemilik jiwaku.

"maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-Anbiya [21]:87)

Kepada Allah SWT, Ini Dariku

Ini 'Memo Khusus' yang kutujukan kepada Allah SWT,
isinya sebentuk coretan pena bernada segera,
kutulis saat aku merasa kesedihan menyelimuti mata batinku.

Ini 'Proposal Spesial' yang kuajukan kepada Allah SWT,
isinya seberkas permohonan bernada memelas,
kutulis saat aku merasa kesukaran menghimpit dadaku.

Ini 'SMS Penting' yang kutujukan kepada Allah SWT,
isinya sebuah pesan bernada memohon pertolongan,
kutulis saat aku merasa bencana menimpa badanku.

Ini 'Surat Rujukan' yang kulimpahkan kepada Allah SWT,
isinya selembar permintaan bernada permohonan bala bantuan besar,
kutulis saat aku merasa kegagalan meremuk asaku.

Ini 'Pesan Dadakan' yang kukirimkan kepada Allah SWT,'
isinya sepucuk untaian bernada permintaan pertolongan,
kutulis saat aku merasa kehilangan membelenggu langkah kakiku.

Ini sebuah Doa,
Kuucapkan saat sedih, sukar, bencana, gagal, hilang,
merajai hariku.

Ini sebuah Doa
Kuucapkan agar Engkau membebaskanku dari semua itu,
agar aku kembali bisa mensyukuri nikmat-Mu.

Ini sebuah Doa,
Semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan bagiku meski sedih menderaku.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan  bagiku meski sukar melilitku.
Semoga Allah SWT memberikan Rahmat dan Maghfirah bagiku meski bencana menghadangku.
Semoga Allah SWT memberikan kesuksesan bagiku meski gagal menyapaku.
Semoga Allah SWT memberikan kecukupan bagiku mesti hilang menjeratku.

Amin ya Rabbal'alamin...

karena yakinku kepada-Mu,
aku sebagai Hamba-Mu akan senantiasa setia menanti balasan-Mu.
Apapun, Kapanpun, Dimanapun, Bagaimanapun...

11 Desember 2010
18:26 wita

Rabu, 08 Desember 2010

Senyumlah, Ibu...

Senyumlah...
Dunia Akan Tersenyum Kepadamu

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui hangat sinarnya. Matahari tak pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian. Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga, dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan itu adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Enuh cinta dan kedamaian.

Ingatlah betapa sakitnya penderitaan seorang ibu saat melahirkan buah hatinya. Segala daya upaya serta nyawa yang bersemayam dalam raganya pun disiapkan demi kelahiran sang dambaan hati. Namun, segala penderitaan fisik yang berlangsung selama sembilan bulan itu pupus karena melihat sang bayi lahir dengan selamat. Segala keletihan fisik dalam mebesarkan sang balita terbayar lunas dan tuntas ketika melihat sang belahan hati tersenyum. Yah, hanya dengan senyuman seluruh sendi ragawi yang letih terasa mendapat injeksi vitamin yang memulihkan dan menguatkan diri. Fenomena alami ini akan terus berlaku sepanjang peradaban manusia di bumi.

Dari Abu Hurairah berkata, ”seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, dia berkata,” Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat kebaikanku?” Rasulullah menjawab,”Ibumu.” Dia bertanya,” Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab, ”Ibumu.” Dia bertanya lagi,” Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab, ”Ibumu.” Dia bertanya,” Kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab,” Kemudian Bapakmu.”
( Sebagian ulama berpendapat bahwa ibu mempunyai tiga perkara yang mahal yang tidak dimiliki oleh bapak: mengandung, melahirkan, dan menyusui.)

Kenanglah... waktu kecil, kau dibuai oleh ibu...
Kenamglah hangatnya kasih sayang sang ibu...
Kala sedih menerpa... maka ia ada di sisimu menemani...
Kala bahagia menyapa... maka iapun turut bahagia...
Saat balita telah berlalu...
Saat remaja telah ditapaki...
Saat dewasa kini dijalani...
Apakah kau tidak rindukan saat dia selalu berada di sampingmu?
Berapa banyak kasih yang telah kita beri...
Sebagai balasan kasih sayangnya?
Tiada seujung kuku hitampun tertembus...
Bagai sepenggalah matahari di langit biru...
Berapa banyak jasanya?

Cobalah kita semua hentikan sejenak
Segala aktivitas yang sedang kita kerjakan.
Kenanglah wajah lembut ibumu...
Bahkan lengkap dengan kerut lelah
Di bawah kelopak matanya...
Kenang... kenanglah hingga
Hilang semua bayangan maya...
Berganti sosok sang ibu
Di depan kita...
Kemudian tariklah nafas dalam-dalam...
Hembuskan secara pelan-pelan...
Tarik lagi... dan ... hembuskan...
Lakukan itu dengan penuh perasaan...
Seraya... tetap engkau pandang...
Wajah lembut ibumu...
Walau itu hanya dalam khayalan...
Rasakan denyut lembut jantungmu
Rasakan pula desir darahmu...
Yang mengalir di segenap pembuluhmu...
Saat ini pula... cobalah...dan...
Terus cobalah mengenang segala
Masa lindungan sang ibu...
Dan kenanglah pula...
Segala dosa yang telah kita perbuat padanya...
Katakanlah dalam hatimu terus berulang
Ibu... ataukah mama... ataukah mami...
Atau apa sajalah... asalkan kian mengakrabkan
Antara dirimu dan dirinya.
Lakukan ... dan terus lakukan...
Jangan kau pedulikan semua kesibukan duniawi
Yang ada di kiri dan kananmu
Sekarang yang ada hanya
Kau dan bayangan ibumu
Perlahan.. rasakan gejolakmu
Yang kian terasa di dalam hati...
Perlahan pula ...
Pejamkan matamu...
’tuk terus mengenang ibumu...


Sahabatku, tersenyumlah...
Dengan tersenyum pada ibumu, maka engkau telah memberi hadiah paling indah dalam hidupnya. Bahkan dunia pun akan membaas senyumanmu, serta menyapamu dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.

Wahai ibu...
Meskipun dirimu manusia biasa
Bagiku engkaulah adalah malaikat pelindungku
Yang tak pernah lelah membimbingku
Ibu, maafkanlah aku
Yang dulu sering tidak memahamimu
Yang kadang meremehkanmu
Ibu, engkau lah suwargo katon itu
Tak pernah terlambat memberikan kedamaian

Semoga kau bahagia selalu

Semoga aku dapat membahagiakanmu

Hidup Kecambah Hijau

Bismillahirrahmanirrahim

Sebuah Prolog Pencipta Keakraban

Di sela rerumputan yang rimbun, Si Kecambah Hijau berdiri, menatap langit masa depan yang begitu amat memesona. Musim semi tiba, semua benih kecil di persada bumi ini mulai bertunas.

Si Kecambah hijau bertanya pada dirinya, 
dari semua jenis tumbuhan, akan jadi apakah aku?
"aku mau jadi mawar, tapi terlalu wangi."
"aku mau jadi lily, tapi terlalu pucat."
"aku mau jadi kaktus, tapi terlalu tajam."
"aku mau jadi ini, aku mau jadi itu..."

Si Kecambah hijau terus berpikir.
Namun, dia sadar. Berpikir tanpa bertindak takkan membuahkan suatu hasil, berpikir dan bekerja tanpa 'pola' takkan memberikan kesuksesan. Dia juga sadar, waktu tidak dapat menunggunya. 
Dia tak ingin di musim semi berikutnya dia mendapati dirinya tumbuh menjadi benalu. 

dipandanginya sekeliling.
Terlihat pohon Kapas di ujung bukit sana.

Tumbuh hijau, tak kenal musim, 
Tumbuh sendiri, tanpa bergantung pada pohon lain,
Tumbuh lebat, menentramkan sekitarnya,
Tumbuh kuat, melindungi yang lemah.

Di saat terik, dia memberikan kerindangan,
Di saat hujan, dia memberikan perlindungan,
Di saat angin semilir, dia ikhlas membagikan kapasnya untuk alam.
 
"Aku ingin seperti itu."
Mudah beradaftasi, Mandiri, Menyenangkan, Tegar, Melindungi,
Sederhana namun istimewa, Berguna.

Dengan tekad, usaha, dan doa kepada Allah SWT,
Si Kecambah Hijau memutuskan untuk menjadi
Pohon Kapas.